"Ke Mataram mau bulan madu ya?"
Kamis malam kami berangkat dengan bis yang, bagi saya yang bukan pecinta kendaraan darat ini, terasa cukup nyaman. Tidak seperti bis ke Surabaya yang membiarkan penumpangnya tidur tenang, pengendara bis ke Mataram ini menghibur kami dengan alunan musik era Dian Pishesha sepanjang malam. Jadilah perjalanan sejauh 420 km itu perjalanan paling berisik dalam hidup saya.Pil yang saya minum sebelum berangkat tidak cukup ampuh menulikan gendang telinga saya.
"Honey, bangun."
Pagi masih sangat gelap waktu kami tiba di pelabuhan. Bis sudah masuk ke tempat parkirnya di lambung kapal. Bagi saya yang jarang melihat laut, kapal yang membawa kami menyeberang dari pulau Sumbawa ini terlihat cukup besar. Di atas kapal ada banyak orang yang terlihat mengantuk, beberapa di antaranya orang asing yang, menurut saya, adalah peselancar.
"Bukan. Mau cari ayam."
Tidak ada cottage mewah di tepian Senggigi. Yang ada kandang ayam dua tingkat di pinggir jalan Lombok Timur. Tidak ada mobil sejuk yang mengantar kami berkeliling melihat pulau Lombok. Yang ada motor yang kami bawa menyusuri jalan panas ke Pau Motong.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar