Dari barisan belakang yang terlihat hanya merah putih yg pelan-pelan naik ke puncak tiangnya. Yg terlintas di kepala saya bukan para pejuang yg membela bendera sampai ajalnya, atau ucapan merdeka yg diteriakkan 67 tahun lalu waktu proklamasi dibaca.
Bapak di depan saya tampaknya datang karena harus menulis nama di lembar yg dipegang temannya. Ibu di belakang saya mungkin datang karena ingin bertemu rekannya. Tapi mungkin mas yg tampak khidmat di depan sana datang karena ingin mengenang pejuan pendahulunya. Sementara saya datang lebih karena upacara bendera di halaman gedung yg megah dan indah ini merupakan satu rangkaian dari ritual "terakhir" saya. Upacara terakhir saya karena tahun- tahun berikutnya saya hanya akan bisa mengenang bediri di antara ratusan orang yg bangga bekerja untuk universitas ini.
"Maafkan saya, Indonesia."
Jumat, 17 Agustus 2012
Rabu, 15 Agustus 2012
si mbak pemulung di Kalasan
"Umurnya lima tahun, mbak", kata mbak yg namanya lupa saya tanyakan. Si mbak dan adek kecil lima tahun itu adalah pemungut sampah pinggir jalan yg sering saya temui saat pulang malam. Lebih dari lima kilometer tiap harinya mereka berjalan. Melihat si adek kecil, saya langsung teringat keponakan di rumah yg jam sekian sudah nyaman di kasurnya dengan botol susu di tangan.
Berbagai teori muncul di kepala saya. "Tega sekali mbak ini bawa anaknya mungut sampah malem-malem." Di detik lain, "Kasihan, mungkin ga ada orang yg jaga si adek makanya harus diajak." Mungkin juga " Suaminya si mbak yg nyuruh mereka jalan malem."
Ah...apapun teori saya, yg pasti tiap malam saya masih melihat mereka berjalan dengan karung dan topinya.
Berbagai teori muncul di kepala saya. "Tega sekali mbak ini bawa anaknya mungut sampah malem-malem." Di detik lain, "Kasihan, mungkin ga ada orang yg jaga si adek makanya harus diajak." Mungkin juga " Suaminya si mbak yg nyuruh mereka jalan malem."
Ah...apapun teori saya, yg pasti tiap malam saya masih melihat mereka berjalan dengan karung dan topinya.
Hubby Jo
Satu orang ini membuat saya cemberut, marah-marah, menangis. Satu orang ini juga yang sering membuat saya harus tiba-tiba mengerutkan dahi berpikir keras mencari jawaban utk pertanyaan yang sering kali seperti terdengar seperti pertanyaan anak SD.
"Honey, kenapa ya hujan ga turun deras sekalian, kenapa rintik-rintik tapi lama??" hahahahaha...maunya sih jawab "EGP, Hubby"
Satu orang ini juga sering membuat gemas dengan kebiasaan lupanya yang luar biasa akut, kecerobohannya yang membuat kalang kabut.
Satu orang ini juga membuat saya tersenyum lebar, tertawa lepas. Bisa juga membuat saya merasa cantik, pintar, dan berani.
Orang ini tidak lama lagi saya panggil "suami", dalam kesusahan dan kebahagiaan.
Langganan:
Komentar (Atom)
